The Story

Digikidz Multimedia Computer | Robotic | iPad Learning Center for Children

Founder DIGIKIDZ adalah Ir. Hanny Agustine yang lahir di Malang dan menghabiskan masa kecilnya di kota apel ini. Lulusan Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga jurusan Teknik Elektro ini sudah bekerja selama 14 tahun sebelum mendirikan DIGIKIDZ pada tahun 2001.

Sejak mahasiswa tahun ke 3, ibu Hanny telah bekerja sebagai Asisten Dosen dan memberi kursus komputer kepada murid SD untuk mencukupi biaya hidup sebagai mahasiswa kos-kos an. Begitu lulus S1, ibu Hanny langsung bekerja sebagai Dosen di perguruan tingginya dan juga bekerja di Pusat Pelayanan Komputer universitasnya selama 2 thn.

Kemudian menikah dan pindah ke Jakarta, ibu Hanny bekerja sebagai System Engineer dan Sales Representative di PT. Metrodata Elektronic selama 3 thn. Pengalaman mencari ilmu lain, ibu Hanny bekerja sebagai Consultant di salah satu ‘The Big Five”, yaitu KPMG Management Consultant di Jakarta. Selama 4 tahun, berbagai klien dari industri kimia, manufacturing, electronic dan airline telah menjadi ladang belajar baru untuk memahami bagaimana hardware, software, orang dan manajemen berperan penting dalam berbagai macam industri. Empat tahun berikutnya, ibu Hanny belajar lagi dalam dunia IT Market Research dalam team INPUT Pte Ltd, yang merupakan perusahaan market research IT di Asia Pasific.

Bekerja secara virtual selama tahun 1997-2001 dengan berbagai team yang tersebar di 13 negara Asia Pasific, mulai dari Hongkong hingga New Zealand, ibu Hanny menyadari bahwa pekerjaannya sangat, sangat tergantung pada komputer dan Internet. Pada tahun-tahun itu, komputer masih mahal, Internet di Indonesia baru muncul dengan modem 56 Kbps. Harga koneksi Internet masih mahal, dan belum banyak orang di Indonesia yang tahu Internet itu seperti apa. Yahoo, Google belum lahir. Handphone masih sebesar batu bata dan cuma bisa buat telpon.

Namun pengalaman pribadi dengan anaknya yang mengubah jalan hidupnya. Saat itu, jika anaknya yang masih kelas 3 SD. Semua hafalan, hafalan dan hafalan dalam bentuk tulisan yang membosankan dan biasanya setelah ulangan, jika anaknya ditanya lagi “Pangeran Diponegoro lahir tahun berapa, nak ?”. Jawabnya tentu saja “Aduh, lupa”. Saat anaknya menunjukkan hasil ulangan bahasa Indonesia yang jelek karena salah menjawab soal “Batu bata digunakan untuk ….”, ibu Hanny menemui kepala sekolahnya dan menanyakan apa jawaban yang benar dari soal itu, maka jawaban yang diperoleh adalah “Ibu, ini harus dijawab untuk membangun rumah, jawaban anak ibu salah sih !”.

Tahu tidak anak saya menjawab soal itu dengan ‘Batu bata digunakan untuk mengganjal pintu’ ?

Batu bata kan bisa untuk membangun rumah, bangun rumah sakit, juga untuk mengganjal pintu kan ? Di rumah, anak ibu Hanny melihat pembantu rumah mengganjal pintu pakai batu bata, kok salah ?

Atau pertanyaan lain soal ulangan bahasa Indonesia “Saya belajar supaya menjadi ….”. Jawaban benar menurut kepala sekolah adalah “Pintar”, tapi anak ibu Hanny menjawab “Professor”. Lha, professor kan orang pintar ? Kok salah lagi ?

Frustasi dengan pendidikan anak di sekolah saat itu yang masih mencatat-menghafal-lupamaka ibu Hanny bertekad mendirikan sarana belajar yang menyenangkan buat anak dan remaja. Hal ini diterjemahkan dalam DIGIKIDZ yang belajarnya sudah menggunakan Teknologi Multimedia dan berbasis Kreatifitas.

Jadi karena pengalaman pribadi ini di tahun 1997-2001, dalam hal pertentangan batin antara maju dengan teknologi atau cara belajar tradisional, menghafal atau kreatifitas anak, bosan belajar atau belajar yang menyenangkan dengan lagu dan video. Pikiran dan ide-ide ini semua yang membentuk konsep DIGIKIDZ. Padahal saat itu di Indonesia belum mengenal teknologi multimedia dan bahkan saat itu sekolah-sekolah belum mengenal Multiple Intelligence atau konsep Quantum Learning !

Kini kita baru menyadari bahwa ide-ide DIGIKIDZ pada saat awal didirikannya pada tahun 2001, sekarang sudah menjadi nyata. Sekolah sudah banyak yang mengubah cara belajar mencatat-menghafal-lupa dengan belajar berbasis projectkerjasama team atau bentuk lain. Mulai menggunakan audio dan video dalam materi ajarnya. Kalau dulu jawaban anak harus ‘sama’ dengan guru, kini sekolah sudah menekankan kreatifitas anak. Sekarang juga tugas belajar anak mulai banyak menggunakan video, foto, komputer, internet …..

Sampai hari inipun, ibu Hanny tetap ‘mencari’ hal baru dan ilmu baru dari mana saja agar DIGIKIDZ tetap menjadi yang terdepan dan pionir dalam pendidikan anak dan remaja berbasis Teknologi dan Kreatifitas. Cinta dan Passionnya memang buat pendidikan anak-anak Indonesia.

Dibawah ini beberapa foto ibu Hanny dan cerita serunya dalam menemukan produk baru.

Mengunjungi pameran IT terbesar Asia Taiwan Computex pada bulan Mei 2012. Tidak seperti pameran di Jakarta yang jadi ajang jualan, pameran di luar benar-benar untuk memamerkan produk masa depan dari para vendor.

Pameran ini diikuti merk-merk besar seperti Samsung, Acer, Lenovo, Microsoft dsb. Mereka memamerkan produk-produk yang masih berupa prototype atau produk yang akan di launching 1-2 tahun ke depan.

Dari pameran ini sudah jelas bahwa Tablet akan segera menggantikan PC secara drastis. Dan ada Printer 3D yang ibu Hannt lihat demonya saat mencetak logo 3D dari bahan berupa kabel.

Bayangkan jika printer 3D ada di setiap rumah. Kita bisa membuat sendok, garpu atau penggaris sesuai design kita. Ini sangat revolusioner menggantikan fabrikasi atau manufacturing di masa depan, jika harganya sudah murah. Printer 3D yang saya lihat demonya itu harganya masih USD 3000. Namun saya yakin, harganya akan semakin murah di masa depan. Ini produk masa depan DIGIKIDZ :).

Digikidz Multimedia Computer | Robotic | iPad Learning Center for Children

Digikidz Multimedia Computer | Robotic | iPad Learning Center for Children

Digikidz Multimedia Computer | Robotic | iPad Learning Center for Children

Microsoft Worldwide Conference, Toronto Kanada, Juli 2012. Diikuti 156 negara dari seluruh dunia. Peserta dari Indonesia ada 22 orang. Steve Balmer, yang waktu itu masih CEO Microsoft memberikan presentasi kemana arah Microsoft.

Namun kita tahu akhir-akhir ini tampak jelas bahwa market share operating system Microsoft akan tergeser oleh Android, Google dan Apple di masa depan. Microsoft tidak lagi akan menjadi dominan di masa mendatang. Melihat sejak 2001 DIGIKIDZ berbasis Microsoft, maka ke depan DIGIKIDZ juga harus berubah dalam penggunaan hardware, operating system dan software.

Kelak perubahan ini yang akan anda jumpai dalam konsep DK V2.1 (DIGIKIDZ Versi 2.1) dengan kurikulum yang kelak mengajarkan Apple, Google, Android, Kinect, Game Development, Mobile Apps Development dst.

Digikidz Multimedia Computer | Robotic | iPad Learning Center for Children

Digikidz Multimedia Computer | Robotic | iPad Learning Center for Children

Digikidz Multimedia Computer | Robotic | iPad Learning Center for Children

Demi penambahan produk baru untuk perluasan perusahaan, ibu Hanny juga “mengejar” LittleBits di New York, Juli 2012 yang nantinya akan menjadi produk baru DIGIKIDZ di 2014, yaitu kelas ELMO atau Elektronika Modern.

Mengunjungi Apple Store di 5th Avenue New York, Juni 2012. Toko Apple di New York ini semua terbuat dari kaca. Pintu masuk dan tangga dari kaca. Lift dari kaca. Toko ini sangat fenomenal dan sangat menggambarkan bagaimana Apple tetap menjadi ‘berbeda’ dan ‘unik’. Kendalanyadi Indonesia, memang volume pengguna Apple atau iPad atau iMac di Indonesia belum dominan. Apalagi untuk market anak-anak dan remaja. Android lebih dominan. Sementara apps education Android masih terbatas, sedangkan apps education iPad saja sudah berjumlah ratusan ribu, sangat bagus dan sangat mendukung konsep “Kreatifitas” DIGIKIDZ.

Digikidz Multimedia Computer | Robotic | iPad Learning Center for Children

Digikidz Multimedia Computer | Robotic | iPad Learning Center for Children

Studi Banding dengan Hungerford School, London di September 2014. Mr. Simon adalah principal dari Film and Workshop .

Kami saling sharing kegiatan yang telah dilakukan selama ini dan jika melihat penjelasan Simon, pelajaran animasi dan video di Inggris sudah dilakukan sejak 15 tahun lalu. Simon sudah mengajar anak-anak di sekolah ini sejak 20 tahun lalu.

Trend saat ini di UK adalah ‘coding’. Bahkan pemerintah Inggris mewajibkan semua sekolah untuk mengajarkan coding bahkan sejak usia 6 th atau SD 1.

Karena kerjasama pemerintah, sekolah, lembaga-lembaga volunteer dan komunitas yang baik, maka misi ‘coding’ ini dapat berjalan dengan cepat. Hal ini juga membuat saya berkesimpulan, murid-murid di Indonesia sudah ketinggalan 15 th untuk mengejar ini. DIGIKIDZ sekali lagi harus segera masuk ke kurikulum ‘coding’ sejak usia dini. Coding ini bagus, karena anak belajar “cara mesin berpikir”. Mesin bisa berupa komputer, robot atau mesin yang lain dimana membutuhkan coding atau program untuk berfungsi.

Digikidz Multimedia Computer | Robotic | iPad Learning Center for Children

Digikidz Multimedia Computer | Robotic | iPad Learning Center for Children

Studi banding dengan Ms. Narges, Founder dan Owner dari Bermotech.com, London di September 2014. Sama seperti DIGIKIDZ, Narges selalu berpikir mengapa anak-anak dan remaja tidak belajar coding atau apps development sejak dini.

Digikidz Multimedia Computer | Robotic | iPad Learning Center for Children

Digikidz Multimedia Computer | Robotic | iPad Learning Center for Children

Semua perjalanan itu dilakukan ibu Hanny untuk terus mengejar mimpinya, yaitu : anak-anak Indonesia punya percaya diri tinggi karena menguasai teknologi sejak usia dini dan kelak anak-anak ini duduk bekerja di salah satu cafe di Serpong atau Solo, tapi pekerjaannya berbayar dollar dan datang dari segala penjuru dunia.